Kapal-kapal wisata meramaikan perairan Labuan Bajo.(Foto:YD)

Kapal-kapal wisata meramaikan perairan Labuan Bajo.(Foto:YD)

Labuan Bajo, (ITN-IndonesiaTouristNews): Kini tampak Labuan Bajo pasca Sail Komodo 2013 serasa menjelma menjadi destinasi resor selam internasional. Muncul beberapa macam aktivitas wisatawan di sana. Ada yang mengkombinasikan berlayar dan tinggal di darat, ada yang tinggal di darat untuk kemudian mengikuti paket-paket tur leisure atau paket-paket penyelaman sehari (daily tour/diving), atau menjadikannya sebagai titik permulaan atau berakhirnya pelayaran. Jadi, wisatawan yang berkunjung ke Komodo-Labuan Bajo tidak datang untuk stay sehari atau dua hari saja.

Di Labuan Bajo, rata-rata durasi paket-paket pelayaran yang dijalani oleh wisman, khususnya dari Barat, antara 3 hari hingga 2 malam sampai 4 hari 3 malam. Untuk wisata selam bisa lebih lama, minimal selama seminggu.

Komodo Escape, operator kapal LOB Adishree yang berbasis di Labuan Bajo, berbagi pengalamannya, lumayan banyak menangani tamu-tamu dari Asia dalam setahun. Di antaranya dari Jepang dan Korea Selatan. Satu grup per perjalanan diikuti antara 10-12 pax dan berlayar untuk menyelam. Durasi  stay-nya selama 7 hari 6 malam.

Labuan Bajo di siang hari (atas).Dan suasana pada malam harinya (bawah).(Foto:YD)

Labuan Bajo di siang hari (atas).Dan suasana pada malam harinya (bawah).(Foto:YD)

Pada umumnya orang Indonesia belum mengenal dan menyukai cruising. Setelah Sail Komodo 2013, jumlah wisnus yang berlayar dengan LOB dirasakan terus meningkat. Paket LOB paling diminati oleh wisnus berdurasi 3 hari 2 malam, meskipun sudah ada yang mulai mencoba berlayar selama 4 hari 3 malam. Pada umumnya mengambil paket leisure. Sedangkan paket tur sehari dengan kapal phinisi atau semi phinisi dipesan oleh tamu-tamu perusahaan.

Ciri khas destinasi resor selam di antaranya, lengang di pagi-siang hari dan ramai pada sore-malam hari. Wisatawan memulai aktivitasnya sejak matahari baru terbit dan kembali ke daratan di penghujung senja.

Saking gencarnya branding dan promosi hewan purba komodo, kemudian taman lautnya, di dalam dan di luar negeri tampaknya membuat orang penasaran dan ingin mengunjunginya. Di dalam bayangan mereka aagaknya Komodo-Labuan Bajo sudah siap menerima kedatangan wisatawan: berlayar, menyelam atau snorkeling, dan menikmati daratan di pesisir barat Flores yang memang eksotis.

Tetapi, kesiapan infrastruktur keras dan lunak di Komodo-Labuan Bajo teerasa belum sepenuhnya bisa memenuhi ekspetasi wisatawan. Di antaranya berikut ini.

Untuk mengakomodasi tipikal aktivitas wisatawan di kota resor selam dibutuhkan penerangan cukup di jalan-jalan raya dan pedestrian terutama pada malam hari. Labuan Bajo berada di perbukitan sehingga pedestrian dan tangga-tangga perlu dibangun dengan memperhatikan kontur tanah sehingga aman dan nyaman dilewati. Wisatawan asing suka mengeksplorasi sambil berjalan santai. Pedestrian di kontur perbukitan menghadap laut dan pelabuhan serta pemukiman nelayan amatlah menarik dan menjadi sesuatu yang “Labuan Bajo banget”.

Tempat-tempat sampah diletakkan antara 5-10 meter. Jelas benar itu perlu diberi penutup agar tidak menarik  lalat dan serangga lainnya. Tentu saja sampah-sampah harus diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) secara berkala setiap hari agar tidak menumpuk dan berceceran.

Pujasera di Kampung Ujung selalu ramai oleh pengunjung lokal,wisnus dan wisman.Kebersihan tempat dan higienis makanan yang dijual belum mendapat perhatian yang cukup.(Foto:YD)

Pujasera di Kampung Ujung selalu ramai oleh pengunjung lokal, wisnus dan wisman.Kebersihan tempat dan higienis makanan yang dijual belum mendapat perhatian yang cukup.(Foto:YD)

Beraktivitas seharian di laut membuat lapar dan haus. Pilihan tempat makan yang representatif relatif masih terbatas. Perihal kuliner, Labuan Bajo beruntung dengan keberadaan komunitas Bugis-Makassar-Bajo dengan tradisi kuliner khasnya. Kesuburan tanah di pedalaman Pulau Flores dan daerah-daerah penghasil rempah dan bahan pangan di sana bisa memanfaatkan pariwisata yang tengah berkembang pesat di Labuan Bajo sebagai target pasarnya. Menjadi pemasok bagi hotel, resor, restoran dan kapal-kapal LOB. Namun tampaknya kedua hal tersebut belum dipadukan, dieksplorasi dan dikembangkan.

Wisatawan, terutama wisman, tidak melulu mencari makanan seperti yang ada di negerinya tetapi juga mencari makanan lokal yang khas. Di tempat yang bersih, terjamin higienisnya, dan cita rasa yang bisa ditolerir dengan indera pencecap dan pencernaannya. Penggunaan produk-produk lokal dalam mengolah kuliner hingga perangkat penyajiannya juga bisa dijadikan ‘alat’ promosi wisata di Labuan Bajo.

Meskipun seharian berada di laut dan bermain-main di pantai-pantai di pulau-pulau, wisatawan juga mencari pantai-pantai terbuka untuk umum ketika berada di daratan (main land). Sekedar jalan-jalan di atas pasir pantai atau duduk-duduk menunggu senja yang nyaris sempurna setiap hari di Labuan Bajo.

Tarian menyambut wisatawan di Terminal Kedatangan Bandara Komodo melibatkan sekolah dan sanggar-sanggar kesenian di Manggarai Barat.Pertunjukan setiap hari pada pukul 14.00-16.00 WITA.(Foto:YD)

Tarian menyambut wisatawan di Terminal Kedatangan Bandara Komodo melibatkan sekolah dan sanggar-sanggar kesenian di Manggarai Barat.Pertunjukan setiap hari pada pukul 14.00-16.00 WITA.(Foto:YD)

Siapa yang tidak mencari WiFi? Koneksi internet juga diperlukan oleh para pelaku bisnis pariwisata hingga pelaku usaha ritel mulai dari urusan pemesanan hingga pembayaran. Mesin anjungan tunai mandiri (ATM) pun terbatas.

Setiap hari ada pertunjukan kesenian di dalam Terminal Kedatangan di Bandara Komodo. Waktunya antara pukul 14.00-16.00. Pertunjukan itu melibatkan sanggar-sanggar seni dan sekolah di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Menghibur penumpang yang tengah menunggu bagasi. Tetapi, transportasi dari dan ke bandara belum diatur dengan tertib. Sehingga menimbulkan perasaan kurang nyaman bagi wisatawan yang baru saja mendarat dan akan meneruskan perjalanan ke kota.

Kunjungan ke Komodo-Labuan Bajo 70%-80% ialah wisatawan mancanegara. Wisman juga mendominasi tamu-tamu kapal-kapal live on board (LOB). Demikia menurut data dari Taman Nasional Komodo maupun Dinas Pariwisata Manggarai Barat.*** (Yun Damayanti)