Audiensi antara Kemenpar dengan MUI.Dipimpin langsung oleh Menpar Arief Yahya dan Ketua MUI...(Foto:Humas Kemenpar)

Audiensi antara Kemenpar, dipimpin oleh Menpar Arief Yahya (kedua kanan) dengan MUI. dpimpin oleh Ketua MUI K.H. Ma’ruf Amien (kedua kiri). (Foto:Humas Kemenpar)

Jakarta, ( ITN – IndonesiaTouristNews ): Kementerian Pariwisata dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah sepakat untuk berkolaborasi mengembangkan pariwisata halal di Indonesia. Pengembangannya akan mengacu kepada Global Muslim Travel Index (GMTI).

Kemenpar dan MUI menggelar pertemuan pada Jumat (2/2) di Kantor MUI, Jakarta. Audiensi itu dihadiri oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya didampingi oleh Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Riyanto Sofyan dan Plt. Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kepariwisataan Ahman Sya. Dari MUI dihadiri oleh Ketua MUI K.H. Ma’ruf Amien didampingi Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid dan Sekjen MUI Anwar Abas.

MUI sangat terbuka terhadap industri pariwisata. Hasil dari audiensi antara Kemenpar dengan MUI adalah tujuh formulasi pengembangan pariwisata halal. Terkait penyusunan pedoman pariwisata halal harus dilakukan bersama-sama. Untuk pedoman usaha pariwisata halal nantinya akan disusun dalam format segitiga. Dalam format itu para pemangku kepentingan pariwisata halal terdiri dari  Kementerian Pariwisata, MUI, dan pelaku industri wisata halal. Setelah pedoman tersebut terbentuk akan diikuti dengan langkah sosialisasi wisata halal. Demikian dikabarkan melalui siaran pers kemarin.

“Program wisata halal ini akan dikembangkan bersama MUI. Karena alasan itulah kami beraudiensi. Kami ingin wisata halal Indonesia mendunia. Acuannya tetap global. Standardisasi wisata halal dengan level GMTI. Itu sudah menjadi baku,” kata Menpar Arief Yahya usai audiensi.

Dalam peringkat pariwisata halal GMTI, Indonesia berada pada urutan ketiga dunia setelah Malaysia dan Uni Emirat Arab pada tahun 2017. MUI sudah memberikan dukungannya agar standar wisata halal di Indonesia meningkat pada 2018. Label ‘Halal’ sebenarnya bersifat inklusif, tidak hanya berlaku dan diperuntukkan bagi pejalan muslim saja tetapi juga dinikmati oleh non-muslim. Dan produk-produk wisata halal mampu menjangkau semua wisatawan.***